Langsung ke konten utama

puisi- puisi beraliran romantisme


Juni

Gemericik cinta obral di bulan Juli
Halus, tembus dan menusuk
Katamu ini sebuah cinta

Semerdu lagu untuk cinta ini
Tak pernah di duga
Tetapi menuai keajaiban
Juni oh Juni

Tali berwarna merah jambu itu
Yaaa, merah jambu
Yang telah membentang diantara kita
: berdua

Agustus
Bunga mawar merah datang menyambut
Menuai segala keinginan
Senyuman manis terkulai indah di sudut bibir

Agustus, ternyata kau mengingatnya, Her
Hati dag dig dug menari di atas kerinduan malam
Satu malam diiringi olehmu, Her
Doa dan harapan terajut untukku
Darimu melalui sang pencipta

Kado
Anak hujan bermain kecil diluar
Indah, menyejukkan
Kuiringi langkahku menuju tempat singgahmu
Ku dapati wajah lusuh yang baru sadar dari alam mimpi

Kado special untukmu
Hanya dengan beberapa rupiah
Kue gendut berhias rangkaian namamu
Yang takkan pernah terkikis masa
Hujan
Hujan itu indah
Jika hujan indah, mengapa di raut wajah tak ada bentuk keindahan?
Mengapa setelah hujan merintik, kau malah menjauh?

Hujan ini selalu akan merintik menjatuhi
Hujan ini tak pernah munafik akan adanya rekaman

Jika hujan itu pupus
Akankah kepedihan ini juga terhapus?
Kaca tajam
Manis kata terniang
Mengingat semua kepalsuan
Kepalsuan yang tiada henti berputar

Semua kepastian terseret jauh
Membawa dusta mengaduh
Berselimut tersangka tertuduh

Her, kaulah kaca tajam
Luka mengangga dalam
dan aku hanya bisa diam
Diantara Api
Sore itu di persimpangan jalan
Antara aku, kamu dan dia
Beselimut amarah hingga menganga

Gadis bersorban kelam
Cantik namun berbalut noda hitam
Berhias kata- kata tajam

Api membara membakar hati
Tiada guna bila kau, gadis bersorban tak menjaga hati
Mengiris kepiluan tiada henti
Terasa nyeri hatiku ini
Mengarungi irisan cinta tertatih
Mawar membisu
Bertangkai –tangkai Mawar merah
Her, ingatkah kau ketika memberikannya?
Pertemuan beriring mawar merah
Mawar itu kini berserakan
Porak- poranda dan terlupakan

Mawar membisu
Kisah kusam bertindih pilu
Menjadi rekaman masa lalu
Persimpangan jalan Senin
Kala itu hujan indah mengayun ringan
Membasahi kebahagian
Romantis dan menusuk hingga palung jiwa

Persimpangan jalan Senin
Sunyi, sepi dan beriring suara angin
Gemericik hujan diiringi lampu- lampu berwarna- warni riang bermain

Jalan itu lusuh tak terurus
Lurus dan lurus

Her, ingatkah ketika kau menggendongku?
Atas ketidaksanggupanku
Atas keletihanku
Dan atas kerapuhannku
Hari itu hanya satu doaku
Aku tak ingin kau terbang tinggi menjauh
Biarkan kau disini menemani setiap masaku
Palsu
Semuanya palsu
Terdengar selalu membisu
Merajut harapan yang ambigu
Lalu kemanakah terseretnya janji manis itu?

Kau tak akan merasa
Segala apa yang kurasa
Berbumbu bahan fana
Hingga menyesak tiada tara

Harapan kosong
Tiada guna untuk berkata
Menjerit – jerit dalam kebisuan
Mematung dalam kesepian
Tak kujung ada balasan
 : Untuk semua harapan

karya : Roma Kyo K S 

Komentar

Posting Komentar