Langsung ke konten utama

Rumah

Semua orang rindu rumah, kecuali gadis itu
tempat melipat jarak, kelabu, dan hanya memuncak

Rumah, katanya itu tempat teraman dari segalanya
tapi cukup menyakitkan baginya

Ia ingin pulang, membakar semua waktu
tapi memori tak mengizinkan
Semua orang memasang sungging di bibirnya, mata tajam
Katanya, "gila" yang tak suka rumah
Lalu, haruskah memaksa?

Etalase kebahagiaan hanya bisa dibeli oleh si kaya atau si sempurna
terlalu mahal dan hanya sekedar awang


Lalu ia sadar, ia takkan bisa
merebut atau masuk
lalu, apakah ia mengemis?
ya, ia lakukan.
Ia mengemis pada suatu kealpaan


satu bundel mimpi yang hanya terwujud saat tidur?
kejamkah?
Kata, baik-baik saja
hatinya, penuh dengan puing-puing
adilkah?

Komentar