Langsung ke konten utama

Postingan

HAMBAR

 Memang benar katanya, jangan memaksakan memakan sesuatu yang hambar Menu yang ada memang banyak, tapi semuanya hambar di lidah Mau ditaruh di bagian lidah mana pun, hasilnya sama tetap hambar Lidah kelu, bahkan terasa kerongkongan dan suara sembar Katanya, akibat sebuah penyakit yang tersebar Bukan penyakit, katanya juru masaknya yang memang tidak pandai Bukan, bukan tidak pandai, tetapi memang rasanya rangan kaku Mencampur berbagai rasa yang semestinya nikmat di pojok lidah Harga semuanya mahal, tidak dapat dibeli lebih  Alasan konyol! Cari bahan baku lain! Sulit! Tidak bisa!  Cih! terlalu idealis!  Biar saja katanya, semuanya tidak pernah merasa rasa Katanya, bukan lidah kalian, aku penyebabnya Juru masak bangkit ke panggung sandiwara Berteriak lantang seisi ruang terkesima  Apanya? Semuanya tidak ada harganya! Menu menu dan rasa yang sengaja dimanupulatif!

CEPAT

 Kutahu, rindu campur darah atas rasa khawatir minumlah sedikit saja, katamu. aku tidak dapat meminum ini terus, bukan sedikit.  Ini sudah banyak dan aku ingin berhenti untuk menyogokku dengan segelas minuman ini Kita sudah lelah, kau harus minum. Harus banyak banyak. Aku tak bisa minum untuk hanya tertidur pada mimpi yang menyakitkan. Mengingat kau yang tidak ada di sampingku. Melihat masa lalu yang tidak tergapai Minum! Jangan kau paksakan ini semua, aku tak mau!

B.I.S.A.

Khawatir, aku menunggu semua bisa yang dilontarkan untuk menusuk ke dada membiarkan semuanya mati tanpa ampun lalu mengundang air mata penuh lalu, katanya bagaimana nasib si besar jika ditinggalkan, bisa menjadi lebih banyak lalu, biarkan saja si kecil untuk ditinggal, bisa lebih parah menusuk dada mereka tidak tahu jalan yang telah dilalui melalui hutan sepi dini hari masuk dan menyusuri petak jalan demi tembus ke jalan besar  kota ini sudah bosan melihat berbagai jalan terus sepanjang masa lalu, bisa hadir untuk menghancurkan segala kepercayaan yang dibangun? kepergian membuat semua tidak bisa jernih memilih dan memilah menjadi kesulitan sendiri untuk melampiaskan emosi terpendam mereka tidak pernah tahu dan menahu, lontarkan saja bisa yang menanar toh, kecil yang memperolehnya dan teracuni olehnya dan segalanya bukankah kita telah berlari hingga jalan raya ini, walau kita belum menemukan kendaraan? kabut tebal terlalu menutupi jalan dan arah yang semestinya kita bisa tuju bisa ...

PULANG 2

 Entah mengapa, aku benci dengan kata itu. Sering kali, berkali-kali atau bahkan jutaan kali pun, aku tidak menyukainya.  Pagi hari, dia mengabariku ingin pulang ke kampungnya alias rumahnya karena papanya yang sedang sakit keras dan tidak sadarkan diri semalam karena muntah hitam yang entah tak jelas asal muasal penyebabnya. Entahlah. Ia sudah siap-siap dan dengan berbagai peralatan dan tasnya yang akan dibawa. Penerbangan ke Padang membawanya harus transit ke Jakarta dengan beberapa puluh menit lalu singgah sebentar dan pergi terbang.  Dia memang sulit dihubungi, tetiba. Katanya, dia khawatir dan entah mengapa semuanya terasa berbeda saat dia menolak jika aku ikut ke kota itu. Entahlah, mungkin aku harus menulis kisahan yang terjadi beberapa minggu lalu di kota ini, kota di tempat aku ditelantarkan oleh lelaki yang kupercayai dia adalah calon imamku dan berbagai kesalahpahaman lainnya. Sepanjang dua minggu ini, aku hanya sakit dan sakit. Hingga hari ini pun.  Ia sa...

LEPAS IMPAS

B ukan suatu hal yang tak pasti menimbang berbagai pilihan jalan di sudut Kota Besar Jakarta Penuh sesak dengan berbagai upaya  mengejar berlomba dikejar detik jam takkan lengah Peluh hanya peluh sampai penuh jika ini begini saja K ota ini telah menjadi rekan dalam masa hampir satu setengah tahun Menyaksikan peluh menumpuk di permukaan kulit berbalut katun Hanya menunggu sampai waktu menyambut dengan santun W aktu terasa panjang macetnya kota Jakarta dan menikmati dingin pagi  Menikmati pilihan bimbang tuk pikiran panjang meraba rekonsiliasi Mimpi masih singgah hingga pagi ini, bersemayam pada relung jeli Kusudah nasihati bahwa silakan pulang dan jangan menginap kembali  M impi bertahun, mimpi penuh bara api di dada yang culas Perasaan dan sebuah peluh yang harus dibayar tuntas Tidak hanya berjalan, tetapi berlari tuk pandangan luas  Kalbu perasaan dengan angan yang semestinya impas Janjiku pada Jakarta, pergi untuk kembali melepas Pada jalur semestinya menembus cakr...

HAH!

Aku  sudah lelah dengan semua kebun binatang ini. Melihat sekitar yang berisi para ular yang tidak pernah berhenti berdesis. Sepertinya, pamorku sebagai singa di hutan dan kebun binatang ini membuat mereka segan untuk berbincang terkait buruan mereka, santap pagi, siang, dan malam. Bahkan, berbagai informasi terkait musuh manusia yang memungkinkan ada di hutan jika suatu saat aku pergi ke hutan. Kebun binatang ini membuat semuanya jelas. Berbagai binatang seperti diam dan menikmati hidupnya dibandingkan dengan berkeliaran di hutan belantara, terutama hutan belantara yang sudah tidak ada lagi di daerah Jawa. Mengerikan memang manusia. Semuanya berusaha dilenyapkan demi kepuasan. Apakah kami sebagai binatang dapat berkomentar atau melakukan pengaduan seperti yang dilakukan oleh mereka di media sosialnya? Sepertinya, jika singa yang memainkan media sosial, sepertinya sangat janggal.  Rasanya bosan untuk selalu mendengar desis para ular yang sedang mengumpat di balik batu sungai b...

26

 Sebuah surat untuk sosok menyegarkan diri dengan sejuta permen di kantong yang dapat dirogoh satu per satu memasukkan dalam mulut hingga tak bersisa di sepanjang kereta menyaksikan bukit, ladang, sawah yang seakan mengucap selamat datang dan tinggal Dia tidak pernah menunggu  hanya mengejar hingga kadang lelah dan menggunakan kereta Asyik saja dengan rel yang pasti mengantar ke tempat tujuan Dia rogoh lagi kantung itu sial, hanya ada karcis pembayaran tiket kereta lalu, ia rogoh kepalanya saat melihat jembatan panjang tempat ia bertemu selama semusim  bertemu dan lelakinya mengucap selamat tinggal sementara Ia menunggu hingga bayangnya musna disapu mentari senja Katanya, keretanya hampir sampai tetapi bayang jembatan tidak pernah usai Ia telan bayangan itu per lahan walau kantung hatinya ingin membuncah Tanpa mengunyah namun, bayang itu kembali terus bersahabat dengan nadi