Langsung ke konten utama

Postingan

Rok

S etiap pagi, membuatku muak  untuk memilih baju atau rok atau gamis apa yang akan kugunakan. Entahlah, kenyamanan memang nomor satu, tetapi kepantasan dan sedap dipandang oleh pasang mata adalah hal yang paling utama. Manusiawi, bukan? Setiap pagi, aku harus berkutat untuk mencocokkan segala yang bukan pasangan untuk terlihat sedap oleh berbagai pasang mata. Namanya juga cibiran. Nanti kau akan peroleh saat kau telah berhasil mencocokkannya. Entahlah. Lelah tubuh ini karena mungkin minggu ini adalah minggu yang membutuhkan perhatian ektra. Aku menyukainya, lebih menyukai ketimbang aku tidur di pagi hari dengan berbagai mimpi yang sedap. Memang, musim hujan lebih menggiurkan untuk tertidur pulas di pagi hari. Entah karena matahari yang senang bersembunyi atau udara dingin yang begitu nikmat masuk ke pori-pori kulit. Semua kusuka. Bangun pagi sangat pagi dengan kegiatan yang dimulai pagi juga membuatku agak malas untuk bangun. Ditambah lagi mata kiriku yang tetiba sakit. Bukan di ...

Adu...

Lelaki , aku suka memanggilmu itu Lelaki yang dapat kusentuh dari luar Namun, sedikit pun tak dapat kusentuh hatimu terdalam Tali merah jambu apa yang kita buat Betapa jauh kau mengulur dan aku sibuk menarik Kau takkan pernah tahu berapa lama aku untuk berjuang Kurajut menjadi sebuah kisah merah jambu yang bernoda hitam Katamu, aku tidak suka Adu... Memang membuat adu... Cinta bodoh! Menuruti tanpa diminta Kau sibuk menulis berbagai kisah Ia hanya sibuk tertidur dengan orokan yang keras Dia takkan pernah paham luka yang membekas mengarat dan sebentar lagi akan retak Kau harus berubah bahkan seperti power ranger Bukankah ketika kau berubah dan kembali ke jiwa dan ragamu dulu Kau lebih bahagia? Merah jambu akan datang sesuai waktu Tugasmu hanya terus menelan kekalahan dan mencicipi apa yang kau inginkan Lalu, bagaiman harap merah jambumu? Merah jambu bisa kau rajut dengan lelaki mana pun sesuai takdirmu Malam ini terasa sangat dingin dan kusumpal telingaku u...

Burung

Seekor burung kecil yang kini mungkin telah tumbuh menjadi makhluk yang bingung. Mungkin, semuanya terasa hambar dan dingin. Ia kira semuanya akan baik-baik saja, tetapi kenyataannya tidak. Apakah hidup terasa hambar ataukah dirinya yang hanya selalu diam di sarang yang bukan menjadi tempat peristirahatan terakhir? Burung kecil selalu bermimpi untuk terbang jauh, jauh bermili-mili atau berkilo-kilo meter untuk membuka semua matanya akan rahasia semesta. Namun, bukankah hidup tak adil bagi burung kecil yang tak memiliki perhatian dari kelompok burung lainnya? Burung kecil belajar terbang, tetapi ia ingin berenang seperti ikan. Kata orang lain, itu hanya mimpi di siang bolong. Namun, burung kecil melakukannya ketika ia memiliki waktu dan ruang. Kini, burung kecil kehilangan waktu dan ruang. Tanpa harus ia minta, mereka pergi.  Egoiskah jika burung kecil selalu meminta untuk hidupnya seperti burung lainnya? merajut mimpi yang katanya seperti mimpi di siang bolong? Namun, ...

Rumah

S emua orang rindu rumah, kecuali gadis itu tempat melipat jarak, kelabu, dan hanya memuncak R umah, katanya itu tempat teraman dari segalanya tapi cukup menyakitkan baginya I a ingin pulang, membakar semua waktu tapi memori tak mengizinkan Semua orang memasang sungging di bibirnya, mata tajam Katanya, "gila" yang tak suka rumah Lalu, haruskah memaksa? E talase kebahagiaan hanya bisa dibeli oleh si kaya atau si sempurna terlalu mahal dan hanya sekedar awang L alu ia sadar, ia takkan bisa merebut atau masuk lalu, apakah ia mengemis? ya, ia lakukan. Ia mengemis pada suatu kealpaan satu bundel mimpi yang hanya terwujud saat tidur? kejamkah? Kata, baik-baik saja hatinya, penuh dengan puing-puing adilkah?

Kunang

Biarkan kunang-kunang menyala malam ini biarkan cahaya temaram kunikmati Titipkan salamku pada kunang-kunang Kadang, ia menyala Kadang, ia redup Kadang, ia betah hinggap Kadang, ia berkeliaran Malam ini, kunang-kunang tak ada Padahal, hujan Hanya tersisa rintik hujan Kuhitung berapa bunyi rintik rindu yang tersisa Masih banyak Kunang-kunang  Rumput tidak menyukaimu, sebenarnya Candu katanya Hanya rintik rindu Sendu

Burung

H ujan terus menerus di sini, entah, aku tak dapat terbang. Aku dikurung dalam sangkar oleh diriku sendiri dan juga keadaan. Aku ingin menyalahkan keadaan dan waktu. Sebenarnya, masih banyak lagi yang ingin kusalahkan atas segalanya. Namun, kusadar, itu tak pantas. Temanku, burung lain sudah asyik terbang sekarang. Entah ke mana mereka, bertengger ke pohon yang satu, satu lagi, dan yang satu lagi. Pokoknya banyak. Sedangkan aku hanya bisa di sangkar ini melihat ke luar bersama derasnya hujan. Ahhh, aku tidak suka! aku ingin terbang melintasi cakrawala yang ingin kulewati dan menikmati segarnya angin. Aku diam di sarang ini. Katanya, diam saja takkan memberikan arti. Lalu, bagaimana kuharus bergerak jika ruang gerakku dibatasi? Katanya, sabar, tunggu waktu. Namun, terlalu optimis ternyata. Ini dunia metafisika, bukan dunia positivisme yang selalu diagungkan negara Barat loh. Toh, kedengarannya narasi positivisme Barat sudah meredup dan hancur. Sebagai burung, kurindu lembutnya udara...